Tag Archives: Badan Narkotika Nasional

Waspadai Ancaman Krokodil Si ‘Narkoba Zombie’ – Detikcom

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook

Jakarta, Saat ini penyalahgunaan obat dan zat terlarang makin marak. Banyaknya zat baru membuat masyarakat menjadi resah, apalagi jika tidak diawasi. Nah, salah satu narkotika yang patut diwaspadai adalah Krokodil.

Krokodil termasuk dalam New Psychoactive Substances (NPS). Zat baru ini ditakutkan akan semakin tersebar menjadi putaw murah. Putaw sendiri sudah dikenal sebagai salah satu zat adiktif berbahaya dan harganya mahal.

“Zat ini sangat berbahaya, jika digunakan akan memberi efek perubahan kulit penggunanya. Kulit pengguna akan berubah menjadi bersisik dan hijau,” ungkap dr Adhi Wibowo Nurhidayat, SpKJ, spesialis kesehatan jiwa dari RSKO, Jakarta.

Hal itu disampaikan dia dalam acara Simposium New & Emerging: Psychoactive Substances, di Merchantile Athletic Club, World Trade Center Building, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Sabtu (11/5/2013).

Dilanjutkan oleh dr Adhi, harapan hidup pengguna yang telah menggunakan Krokodil menjadi rendah. Selain itu akan timbul pula reaksi efek flesh eating (daging lepas dari tulang).

Walaupun kondisi flesh eating sudah muncul, pengguna yang sudah terlanjur mendapatkan efek adiktif akan tetap menggunakannya. Akibatnya, kesehatan pengguna akan semakin memburuk dan bisa berujung kematian.

Menurut informasi yang diterimanya, Krokodil yang semula banyak dikenal di negara pecahan Uni Soviet sudah masuk ke Indonesia. Namun saat detikHealth berupaya mengonfirmasi kebenarannya ke Badan Narkotika Nasional, nomor ponsel Kombes Sumirat Dwiyanto tidak aktif. Nomor ponsel Direktur Penindakan BNN Inspektur Jenderal Benny Mamoto pun sibuk.

“Sudah mulai beredarnya zat ini di Indonesia bisa harus mulai ditindaklanjuti oleh pemerintah,” lanjut dr Adhi.

Diakui oleh dr Adhi, bahwa banyaknya zat baru yang beredar saat ini masih belum terpecahkan. Apalagi banyak perubahan yang ada.

Seperti pernah diwartakan The Week, Krokodil merupakan narkotika jalanan yang murah. Per injeksi, penggunanya hanya perlu merogoh uang USD 6-8 atau sekitar Rp 57.600-76.800, tidak sampai Rp 100 ribu. Bandingkan dengan heroin yang per injeksinya bisa sampai lebih dari satu juta rupiah.

Dengan bahan aktif desomorphine, maka efek Krokodil 8-10 kali lebih kuat daripada morfin. Ketika para pecandu mencoba berhenti menggunakan Krokodil, mereka biasanya akan merasa sangat kesakitan. Karena itu membutuhkan kemauan yang besar untuk lepas dari ketergantungan. Biasanya para junkies Krokodil hanya bisa bertahan hidup tiga tahun setelah mulai mengonsumsi obat tersebut. Namun banyak juga yang tewas di tahun-tahun pertama pemakaian.

Krokodil banyak ditemukan di Rusia karena unsur penting barang haram ini, codeine, bisa didapat di Rusia tanpa resep. Hanya butuh sekitar setengah jam untuk mengolah kodein menjadi Krokodil. Dalam beberapa kasus, bensin ikut ditambahkan dalam pembuatan Krokodil. Selain itu sistem rehabilitasi pecandu narkotika di Rusia belum maksimal. Meski demikian sejak 2009 penyitaan Krokodil di Rusia telah meningkat hingga 23 kali lipat. Dalam tiga bulan pertama tahun 2011, 65 juta dosis disita.

Dikutip dari Daily Mail, Krokodil dijuluki sebagai ‘obat yang memakan pecandu’. Sebab pecandu Krokodil akan mengalami pembusukan dari dalam, sehingga menyebabkan kerusakan parah pada jaringan. Pecandu akan mengalami luka terbuka sampai ke tulang dan mengalami gangren alias kematian jaringan di bagian tubuh atau kematian sel dalam jumlah besar.

Karena kondisi ini, maka anggota tubuh bisa diamputasi. Majalan Time melaporkan sekitar 1,2 juta warga Rusia diyakini telah dirusak oleh narkotika, termasuk Krokodil.

(vit/vit)

See the article here:

Waspadai Ancaman Krokodil Si ‘Narkoba Zombie’ – Detikcom

Incoming desomorphine search terms: